28 April 2015

Kesalahan Ibu Pada Anak yang Terlihat Sepele Padahal Berdampak Besar



Kesalahan Ibu pada Anak yang Terlihat Sepele Padahal Berdampak Besar
Ada beberapa kesalahan seorang ibu terhadap anak-anaknya yang sering kali dianggap sepele, padahal sebenarnya memiliki efek yang berbahaya untuk psikologis anak. Apa sajakah kesalahan tersebut dan bagaimana meluruskannya? Mari kita simak bersama:
1.        Tidak memperhatikan ketika anak bicara
Ini adalah kesalahan fatal. Ibu asyik menonton ketika anak mengajak bicara. Atau, ibu seru dengan gadget ketika anak ingin diperhatikan. Malah terkadang menghardik anak karena merasa mereka sungguh mengganggu.
Berikut ada beberapa hal yang  sebaiknya dilakukan ketika anak mengajak ibu berbicara:
*      Tataplah matanya dan beri ia perhatian dengan benar-benar menyimak perkataannya.
*      Beri sentuhan dan pelukan jika diperlukan.
*      Memang anak-anak sering kali terlalu cerewet dan terus-menerus mengulang pertanyaan yang sama, mungkin ibu merasa jengkel, tapi sadarilah bahwa waktu itu tak akan kembali. Mereka akan segera tumbuh dewasa dan kita kehilangan momen kecil mereka.     
*      Maka, hentikan dulu kegiatan menonton, mendengar musik, atau bermain sosmed ketika anak mengajak kita untuk bercerita. Seorang ibu yang mau mendengarkan anak-anaknya kelak akan merasakan manfaatnya.
*      Ketika anak tumbuh remaja, mereka akan merasa nyaman untuk bercerita pada ibunya ketimbang teman di sekolah. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang cukup kasih sayang dan perhatian, sert menjadi anak yang percaya diri karena mendapat sokongan penuh dari ibunda tercint sejak kecil. Maka mulai sekarang, beri perhatian ketika anak mengajak mengobrol.
2.        Membantu anak mencari 'kambing hitam’
"Uuuh, dedek jatuh yaa, ini lantainya nakal, mama pukul nih lantainya!"
➡ Cara seperti ini mungkin terlihat lucu dan membuat anak berhenti menangis, tapi secara psikologis anak akan segera menirunya.
*  Anak cepat belajar bahwa ketika ada sesuatu yang tidak beres, carilah kambing hitam untuk dipersalahkan! Tidak mengherankan ketika ia tumbuh besar, anak akan menjadi pribadi yang selalu mencari-cari kesalahan pada orang lain ketimbang diri sendiri. Jadi, daripada berbuat demikian, lebih baik ibu langsung memeluk anak dan mengatakan padanya untuk berhati-hati, "Kalau adik lebih hati-hati berlarinya, in syaa Allah tidak akan terjatuh! Lain kali lebih hati-hati ya sayang..."
3.        Merapikan barang yang habis dimainkan anak
*   Memang cara ini lebih cepat dan efektif membuat rumah rapi, tapi sadarilah bahwa terus-terusan membereskan mainan anak yang bergelimpangan di lantai sama saja membentuk kebiasaan anak untuk tidak disiplin.
*  Sebagai ibu, kita perlu mendidik anak agar memiliki karakter disiplin. Boleh mainan dengan berantakan, tapi setelah itu harus dirapikan sendiri. Ajari anak untuk membereskan barang-barangnya dengan cara yang menyenangkan.
*      Jangan selalu menjadikan diri ibu sebagai super hero yang selalu membereskan masalah anak-anak. Makanan berantakan, ibu yang membereskan. Mainan berhamburan, ibu juga yang membereskan. Kapan anak-anak diajarkan untuk mandiri dan bertanggungjawab?
*  Kita perlu menyadari bahwa suatu saat kita tidak akan ada lagi di dunia ini, jangan sampai meninggalkan anak-anak yang lemah dan tidak bisa apa-apa tanpa ibu mereka.
4.        Menyelak antrian
*      Banyak ibu yang justru mengajarkan anak untuk menyelak antrian, misalnya ketika memasuki kereta, ketika sedang antri membeli tiket, antri membayar di kasir, antri di SPBU, atau bahkan ada juga ibu yang menyelak lampu merah di jalan raya padahal sedang membonceng anak.
*    Sesungguhnya ini adalah hal yang terlihat lumrah di Indonesia, tapi menjadi akar ketertinggalan kita dibandingkan negara maju. Anak-anak di negara maju justru diajarkan untuk tertib mengantri, mereka malahan malu jika menyelak antrian.
*  Maka, sadarilah ibu bahwa mendidik anak perlu dengan mencontohkan langsung. Katakan pada mereka untuk belajar bersabar dan menghargai hak orang lain dengan mengantri dan menunggu giliran.

5.        Hampir selalu meminta kakak mengalah pada adik
➡ Satu hal lagi yang terlihat sepele padahal berdampak besar adalah kebiasaan ibu menyuruh kakak untuk mengalah pada adik.
*   Ketika kakak sedang asyik bermain boneka dan kemudian adik memintanya, biasanya ibu akan memenangkan adik dan sang kakak harus merasa dongkol karena ia selalu dikalahkan.
*   Cobalah untuk membuat aturan baru, siapa pun yang sudah duluan bermain, maka yang ingin memakai mainan tersebut harus sabar menunggu giliran. Hal ini justru lebih adil daripada terus-menerus menyuruh sang kakak mengalah tanpa ia paham mengapa dirinya harus selalu mengalah, padahal ia tidak pernah meminta dilahirkan duluan.
*  Biarkan kakak dan adik saling menyayangi dan berbagi, juga ajarkan mereka untuk saling menghormati dan menghargai. Kakak tidak harus selalu mengalah, adik tidak harus selalu kolokan, semuanya tergantung didikan dari ibu dan ayah.

14 April 2015

Balita Diajarkan Calistung ?



Balita Diajarkan Calistung, Saat SD Potensi Terkena 'Mental Hectic'
Seorang anak balita sedang mencoret dinding/ilustrasi.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena 'Mental Hectic'.
''Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,'' ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).
Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada 'qitah'-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung. -//Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ''Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,''  jelas Sudjarwo.
Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung.  Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ''Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,'' cetusnya.
Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ''Jadi tidak main-main itu, ada namanya 'mental hectic', anak bisa menjadi pemberontak,'' tegas dia.
Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ''SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,'' jelasnya.
Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi.  Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ''Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,'' jawab dia.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Srie Agustina, Koordinator Komisi Edukasi dan Komunikasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), menyatakan, memilih mensosialisasikan produk pendidikan  merupakan bagian dari fungsi dan tugas BPKN untuk melakukan perlindungan terhadap konsumen. 
Dalam hal ini, kata Srie, BPKN memprioritaskan sosialisasi pada anak usia dini. Sebab berdasarkan Konvensi Hak Anak, setiap anak memiliki empat hak dasar.  Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dalam kerugian dari barang dan produk, termasuk produk pendidikan. ''Untuk itu sejak dini anak dilibatkan, karena di usia itulah pembentukan karakter terjadi,'' papar Srie.
Namun menurut Srie, mengedukasi tentang sebuah produk harus menggunakan metode khusus.  Tidak dapat berwujud arahan dan larangan, namun dengan cara yang menyenangkan, salah satunya dengan festival mewarnai sebagai salah satu teknik untuk memberikan edukasi. ''Dengan mewarnai, mereka bisa terlibat dan merasa lebur di dalamnya, selain itu dalam gambar yang diwarnai tersebut disisipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan,'' pungkasnya.
Red: Endro Yuwanto
Sumber:viruscerdas.c

28 April 2010

Kiat Mendidik Anak Sejak Dini

Dari hasil pengamatan, wawancara dengan rekan kerja dan berdasarkan pengalaman sendiri, bahwa orang tua sangat besar perannya dalam mendidik anak, terutama pada anak-anak sejak kecil. Mendidik anak sejak dini sangat menentukan bagaimana perkembangan kedewasaan anak. Sebagai orang tua apapun tingkah lakunya akan dilihat oleh anak dan dijadikan contoh perilaku anak, baik yang baik maupun yang buruk sekalipun. Karena pada dasarnya anak berumur dibawah lima tahun rasa ingin tahu dan belajarnya sangat tinggi. Daya ingat bagi anak dibawah lima tahun sangat tajam dan sebagai orang tua sudah layaknya memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari pada kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagai contoh bila orang tua suka membaca, atau suka menulis atau suka berolah raga atau suka menonton film-film barat dan sebagainya, si anakpun cenderung akan mencontohnya. Karena itu berbanggalah orang tua bila bisa melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti tersebut diatas sebagai contoh, nantinya akan menanamkan jiwa pada diri anak untuk suka menulis, menggambar, membaca dan lain-lain.

Berikut ini adalah beberapa kiat mendidik anak sejak usia dini:
1. Berikan contoh dengan mengajaknya ikut serta pada kegiatan sehari-hari yang positif.
-Membersihkan ruangan rumah, Biasanya anak-anak yang suka bermain-main dengan mainannya akan membuat situasi berantakan di ruangan rumah, ajarkan pada anak untuk bisa membersihkan dan merapikan sendiri setelah selesai bermain.
-Membaca buku-buku bacaan. Buku-buku bacaan sebagai alternatif guru yang baik. Buku sebagai sumber ilmu yang tiada batas, banyak jenis buku yang bisa dibaca dan membahas berbagai tema dan masalah.
-Membaca Majalah atau Koran, dengan membaca koran dan majalah akan menambah wawasan pada orang tua sehingga bisa mempunyai wawasan yang lebih luas dan bisa diajarkan.
-Membaca Kitab Suci Al-Qur'an. Dengan mendengarkan bacaan kitab suci Al-Qur'an biasanya si anak akan memiliki spiritual yang lebih baik bila dewasa kelak.
-Menulis, Anak akan memperhatikan bila orang tua sedang menulis dan akan menirunya dengan coret-coret, biasanya di dinding namun sebaiknya di buku-buku yang telah disediakan orang tua, sehingga termasuk juga mengajarkan kerapian dan kebersihan.
-Bagi keluarga yang punya halaman berumput, biasanya setiap bulan sekali rumput akan jadi panjang dan tidak beraturan, maka anak bisa diajari juga bagaimana merapikan halaman.
-Mencuci kendaraan, baik motor maupun mobil bila tidak terlalu kotor bisa dicuci sendiri di rumah, sekaligus mengajarkan anak bagaimana memperlakukan kendaraan.
-Mengajak ke bengkel, biasanya anak akan senang bila diajak ikut serta ke bengkel, dan biasanya akan menambah ide bagi si anak untuk lebih mengenal jenis kendaraan bermotor, bisa juga nanti menjadi idola si anak untuk berwiraswasta dengan membuka bengkel dan lain-lain.

2. Berikan contoh untuk mentaati waktu, Yaitu waktu bermain, waktu belajar dan waktu tidur. Biasanya anak dibawah lima tahun memerlukan waktu tidur lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa. Sehingga sebagai orang tua terutama Ibu harus bisa mengajarkan waktu-waktu kapan harus bermain dan kapan harus beristirahat. Hal ini dilakukan untuk kesehatan anak itu sendiri.

3. Menghindarkan anak-anak dari hal-hal yang bersifat buruk:
-Bertengkar di depan anak-anak, karena dengan bertengkar di depan anak-anak secara otomatis akan memberikan contoh kekerasan dalam keluarga di depan anak, sehingga bisa menimbulkan trauma psikis pada si anak itu sendiri.
-Membiarkan anak tidak disiplin, kadang didikan keras bisa membuat disiplin pada si anak, dengan dimanja anak tidak bisa mandiri dan bertanggung jawab.
-Memukul anak secara langsung di depan anak-anak yang lain, akan mengakibatkan hilangnya rasa kepercayaan diri si anak.
-Bila Ayah sedang keras pada anak, dalam arti tujuan mendidik si ibu tidak boleh membela si anak, sebab bila dibela si anak tidak akan jera bila melakukan kesalahan. Sebaliknya bila Si Ibu sedang keras pada anak dalam arti mendidik, Sang ayah pun tidak boleh membela kesalahan pada anak. Sehingga terjalin kerjasama mendidik anak yang baik dan seimbang.
-Jangan berikan tontonan baik berupa film-film kekerasan atau Sinetron drama yang bersifat cengeng dan mendramatisi, untuk menghindari anak dari sifat-sifat yang kurang baik dari dampak yang ditontonnya.
4. Sisakan waktu bersama Anak-anak. Ditengah-tengah kesibukan sebagai orang tua sisakan waktu untuk bermain bersama anak-anak, sehingga timbul rasa kasih sayang sekaligus pembelajaran pada anak.
5. Usia 7 tahun, bagi yang Muslim bila sampai belum Sholat ajarkan dengan sedikit keras, bisa dengan cambukan untuk mengingatkan anak agar segera shalat.
6. Diatas usia 7 tahun Anak akan bisa diberikan tanggung jawab yang lebih, sehingga tidak terlalu merepotkan orang tua.

26 Juni 2009

Beberapa Cara Mendidik Anak Yang Kurang Baik

Anak adalah buah hati kita, maka dari itu banyak orang tua merasa sangat perlu mendidik anak – anaknya agar mereka menjadi yang terbaik dan berguna. Nah dalam hal mendidik anak inilah kadang – kadang orang tua salah menerapkan pola dalam hal mendidik anak, berikut adalah beberapa contoh dari cara mendidik anak yang kurang baik.

  1. Jika anak terjatuh karena menyenggol meja, kita memukul mejanya dan mengatakan pada si kecil bahwa meja itu jahat. Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia pendendam. Si anak juga akan terdidik untuk menjadi manusia yang tidak pernah merasa bersalah. "Pokoknya apapun yang terjadi, yang salah adalah orang lain, bukan saya!
  2. Kalau anak terjatuh, kita akan langsung menggendongnya dan melindunginya, bersikap seolah2 si anak baru saja mengalami musibah yang sangat besar. Sikap seperti ini akan mendidik anak menjadi manusia manja, yang tidak kuat menahan cobaan hidup. Mereka akan gampang menyerah jika menghadapi masalah.
  3. Menakut-nakuti si anak akan adanya hantu. Biasanya, cara seperti ini digunakan oleh orang tua jika anak mereka bandel atau tidak bisa diberitahu.
  4. Terlalu banyak melarang. Anak adalah manusia yang sedang dalam proses belajar. Jadi wajar dong, kalau mereka sering melakukan kesalahan. Jika terlalu banyak melarang juga akan mendidik anak menjadi manusia yang tidak berani mencoba hal-hal baru.
  5. Menganggap si anak sebagai orang bodoh. Kita justru harus memperlakukan mereka sebagai seorang manusia yang berpotensi. Kita tak pernah tahu persis, seberapa besar ilmu pengetahuan yang sudah tersimpan di kepala anak kita. Karena itu, jangan sekali-kali menganggap mereka bodoh, belum tahu apa-apa, karena hal itu dapat membuat anak menjadi minder. Dengan memperlakukan mereka secara wajar, ini akan mendidik anak menjadi seorang manusia yang percaya diri sehingga ia akan lebih mudah meraih sukses.
  6. Memarahi anak jika mereka bertanya. Mungkin kita punya anak yang terlalu banyak bertanya. Karena bosan dan jengkel, kita memarahinya, mengatakan mereka cerewet, bahkan menyuruhnya untuk tidak terlalu banyak bertanya. Padahal, anak yang cerewet atau sering bertanya, sebenarnya adalah anak yang sangat pintar. Mereka ingin tahu banyak hal. Karena itu, cobalah untuk bersabar menghadapi mereka. Jawablah pertanyaan mereka sebisa mungkin, dengan cara yang menyenangkan. Dengan cara seperti ini, kreativitas dan kecerdasan anak akan tumbuh dengan sewajarnya.
http://id.shvoong.com

Meminta Maaf Pada Anak, Perlukah?

Sebagai manusia biasa, bukan berarti orangtua selalu benar dan tidak pernah bersalah dalam bersikap, terutama kepada anak-anaknya. Tak jarang, orangtua juga melakukan kesalahan pada anak, akibatnya hubungan antara orangtua dan anak menjadi terganggu dan kurang harmonis. Lalu, apakah perlu orangtua meminta maaf kepada anak?

Seringkali kita sebagai orangtua lupa bahwa peraturan yang ditegakkan di dalam rumah sebenarnya tidak hanya berlaku untuk anak-anak, tapi berlaku juga bagi seluruh anggota keluarga, termasuk orangtua. Kalau kita sebagai orangtua selalu mengatakan kepada anak-anak bahwa mereka harus meminta maaf karena kesalahan yang mereka lakukan, maka kita sebagai orangtua-pun sebaiknya juga meminta maaf saat kita berbuat kesalahan walaupun kesalahan itu hanya kepada anak. Dengan kita meminta maaf kepada anak, itu berarti kita memberi contoh yang benar kepada anak-anak kita.

Namun, apakah dengan meminta maaf kepada anak tidak akan menurunkan wibawa kita sebagai orangtua? Tentu saja tidak kalau kita tahu pesis bagaimana cara yang tepat untuk meminta maaf kepada anak. Inilah beberapa langkah meminta maaf pada anak tanpa membuat kita harus kehilangan wibawa di depan anak-anak.
1. Mengaku bersalah. Mengaku bersalah kepada anak teryata bukan hal yang mudah dilakukan oleh para orangtua, karena orangtua seringkali merasa gengsi. Lupakanlah genggsi itu, kalau memang kita tak ingin masalah yang ada terus berlanjut. Sadari bahwa permasalahan itu muncul akibat kesalahan kita dan akui itu di hadapan anak. Dengan demikian, anak akan merasa diperlakukan secara adil. Mengakui kesalahan merupakan salah satu faktor penting dalam meminta maaf.
2. Tulus. Meminta maaf sebaiknya dilakukan secara tulus. Jangan mencoba untuk membohongi anak karena anak-pun punya perasaan. Anak akan tahu dan merasakan itu saat kita meminta maaf hanya sebagai basa-basi. Akibatnya, anak akan merasa dibohongi, dan ini akan dapat menumbuhkan rasa ketidakpercayaan anak kepada kita sebagai orangtua.
3. Tenang. Meminta maaf sebaiknya dilakukan setelah kita merasa lebih tenang.
Meminta maaf dalam keadaan emosi tidak akan membuahkan hasil seperti yang kita harapkan. Kalau kita belum bisa bersikap tenang, katakan kepada anak bahwa kita butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.
4. Tepat sasaran. Katakan permintaan maaf kita secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang kita mintakan maaf adalah sikap kita yang baru saja terjadi, bukan kepribadian kita. Misalnya, kita meminta maaf atas kemarahan dan ucapan kita yang kasar kepada anak, bukan atas kepribadian Anda yang emosional.
5. Jangan menyalahkan. Jangan sekali-kali kita balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap kita sendiri. Misalnya, kita mengatakan kepada anak bahwa ”Seandainya kamu tidak malas, ibu tidak akan marah terus kepadamu”. Ini sama saja kita tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkan anak yang berakibat semakin meruncingnya permasalahan.
6. Meminta maaf. Akui bahwa kita bersalah dan bertanyalah kepada anak apakah ia mau memaafkan kita. Dialog ini akan mempermudah kita untuk mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.
7. Evaluasi. Ajaklah anak untuk melihat dan mengevaluasi kembali bagaimana kita bisa menyelesaikan suatu permasalahan dengan baik. Buatlah kesepakatan dengan anak mengenai cara yang sebaiknya dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.
8. Lupakan. Bagaimanapun juga, walaupun kita sebagai orangtua, kita hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah kita. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika kita meminta anak-anak untuk tidak mengulang kesalahannya.
9. Jangan berlebihan. Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat kita kehilangan wibawa. Mintalah maaf kepada anak karena kita memang bersalah, bukan karena kita berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang diberlakukan di dalam rumah.

Sumber : http://id.shvoong.com

Mengasuh Anak Secara Positif

Sungguh menakjubkan bagaimana orangtua yang bahagia dan positif akan menghasilkan anak yang tumbuh menjadi pribadi yang mempesona.

Berikut ini adalah rahasia pengasuhan anak secara positif :
1. Untuk membesarkan anak yang sehat dan bahagia, ajarilah anak untuk mencintai dan menyayangi dirinya sendiri.
Caranya
: Perhatikan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Selalu sediakan waktu bagi diri Anda pribadi di tengah kesibukan harian Anda. Sediakan waktu bagi Anda untuk berolahraga, merawat diri, dan meluangkan waktu bagi pengembangan pribadi Anda. Sadarkah Anda bahwa orangtua yang tidak menghargai dirinya sendiri akan membesarkan anak dengan sifat serupa!
2. Luangkan waktu yang berkualitas setiap hari.
Tunjukkan betapa Anda sungguh bergembira atas kehadirannya. Jadilah 'Ahli gembira' bagi putra-putri Anda. Ubahlah waktu mengerjakan tugas harian menjadi momen yang berharga dan istimewa. Bernyanyi, memeluk, berbagi tawa dan cerita dapat membuat saat-saat biasa menjadi tak terlupakan.
3. Jadilah pendengar yang baik.
Hal ini
bukanlah hal yang mudah bagi orangtua. Betapa sering orangtua menyela dan sibuk dengan nasehat-nasehat bahkan pada saat anak belum selesai berbicara? Simpanlah kekuatiran-kekuatiran Anda pada saat mendengarkan. Cobalah untuk mendengarkan anak Anda sepenuhnya tanpa menghakimi. Anda perlu menahan diri untuk tidak memikirkan atau memberikan pendapat Anda sendiri. Dengarkan mereka dengan hati yang terbuka dan penyayang. Lupakanlah diri Anda dan tempatkanlah diri Anda pada sudut pandang anak Anda. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai ganti dari memberikan pendapat. Cara orangtua mendengarkan tanpa menghakimi akan membuat anak merasa diterima dan dimengerti.
4. Seringlah tertawa, sebab kegembiraan itu menular!
Anggaplah pada saat ini diri Anda terpilih untuk melakukan tantangan
'30 hari tersenyum bersama keluarga' ! Anda akan menyaksikan keajaiban dari kegembiraan dan kasih sayang yang Anda bawa kepada orang-orang di sekitar Anda. Buatlah momen sehari-hari menjadi luar biasa berkat kegembiraan dan semangat yang Anda bawa ke dalamnya.
5. Berilah pengakuan dan penghargaan.
Latihlah
mulai dari diri Anda sendiri untuk memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, bahkan yang paling kecil sekalipun, yang telah Anda lakukan hari ini. 'Pagi ini saya berhasil bangun lebih pagi untuk berolahraga', 'Setelahnya saya berhasil menyiapkan sarapan dan mengantarkan putra saya ke sekolah tanpa terlambat', 'Hari ini saya berhasil sabar menghadapi putra saya'. Ajarlah diri Anda untuk memberikan penghargaan yang tulus atas tugas-tugas sederhana yang Anda berhasil Anda selesaikan. Penghargaan ini akan memberi semangat baru dalam hidup Anda untuk menjalankan tugas yang lebih besar. Luangkanlah waktu 5 menit bagi diri Anda setiap harinya untuk memikirkan dan menuliskan kesuksesan-kesuksesan yang telah Anda raih hari ini. Rasakanlah bagaimana hidup Anda berubah, nikmatilah semangat baru yang mengisi setiap kegiatan Anda. Bagikanlah penghargaan ini juga kepada anak-anak Anda. Berikanlah pujian, pengakuan dan penghargaan yang tulus kepada mereka. Ingat, penghargaan yang baik menekankan pada tindakan, bukan pada prestasi yang dicapai. Ungkapkan penghargaan Anda secara antusias, sungguh-sungguh, dan penuh cinta. 'Horeee…putriku ingat membereskan tempat tidur. Hip, hip, horee…ia bahkan membantu ibu menyapu lantai!' Berikan pelukan terbesar yang dapat diterimanya. Pengakuan dan pujian yang tulus mempunyai kekuatan untuk mengubah!
6. Disiplinkan anak dengan hormat.
Ajarkanlah
anak turut bertanggung jawab atas tugas-tugas rutin dalam rumah tangga. Anak yang secara aktif turut dilibatkan dalam tugas rutin dalam rumah tangga pada masa dewasanya akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar. Perbaiki kesalahan mereka dengan kelembutan namun Anda harus terus-menerus konsisten. Berikan konsekuensi yang wajar dari pelanggaran dengan tujuan untuk mengajarkan tanggung jawab. Janganlah memarahi apalagi mempermalukan anak di depan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat. Ajaklah mereka ke tempat sepi untuk berbicara hanya empat mata dengan Anda. Berikan pengertian sejelas-jelasnya mengapa tindakannya salah. Mintalah anak meminta maaf bila ia berbuat salah. Anda pun perlu meminta maaf kepada anak di saat-saat Anda bersalah atau melalaikan janji Anda kepada mereka. Disiplinkanlah anak tanpa menunjukkan kuasa dan kemarahan Anda, maka anak akan belajar tumbuh dengan pengendalian diri yang tinggi. Sampaikan pesan kepada mereka bahwa meskipun perilaku mereka masih perlu ditingkatkan, namun Anda sebagai orangtua tetap menyayangi dan menyukai mereka.
7. Berilah ruang bagi putra-putri Anda untuk melakukan kesalahan.
Ingatlah, bahwa setiap orang, apalagi seorang anak, berhak
untuk melakukan kesalahan. Kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Temukanlah kebaikan dalam kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, maka anak Anda akan belajar untuk berani berjuang menghadapi tantangan dan resiko.
8. Jalani hidup Anda dengan nilai-nilai yang pasti: kejujuran, tanggung jawab, dan semangat saling membantu.
Tunjukkanlah
dalam keseharian Anda bagaimana Anda selalu konsisten dengan nilai-nilai ini. Libatkan juga putra-putri Anda dalam kegiatan sosial yang secara rutin Anda lakukan. Putra-putri Anda pun akan tumbuh dengan karakter positif yang kuat dalam diri mereka.
9. Fokuskanlah perhatian Anda pada hal-hal yang berjalan benar.
Milikilah keyakinan yang meneguhkan keluarga Anda di saat-saat
sulit. Anak-anak Anda akan belajar menjadi pribadi yang optimis dan bersyukur setiap hari. Latihlah sikap positif dengan menemukan hal-hal positif dalam setiap hari Anda dan bersyukurlah atasnya selalu.
Cintailah anak Anda dengan tulus tanpa syarat, dan ungkapkanlah besarnya kasih sayang Anda tersebut kepada mereka. Anak yang berada dalam kasih sayang yang tulus akan tumbuh
dengan lebih bergembira, percaya diri, menyenangkan, serta dapat diandalkan.

Sumber : http://id.shvoong.com

02 Februari 2009

Masa Penting Pertumbuhan Anak

Anak adalah aset bagi orang tua dan di tangan orangtualah anak-anak tumbuh dan menemukan jalan-jalannya. Saat si kecil tumbuh dan berkembang, ia begitu lincah dan memikat. Anda begitu mencintai dan bangga kepadanya. Namun mungkin banyak dari kita para orangtua yang belum menyadari bahwa sesungguhnya dalam diri si kecil terjadi perkembangan potensi yang kelak akan berharga sebagai sumber daya manusia.

Dalam lima tahun pertama yang disebut The Golden Years , seorang anak mempunyai potensi yang sangat besar untuk berkembang. Pada usia ini 90% dari fisik otak anak sudah terbentuk. Karena itu, di masa-masa inilah anak-anak seyogyanya mulai diarahkan. Karena saat-saat keemasan ini tidak akan terjadi dua kali, sebagai orang tua yang proaktif kita harus memperhatikan benar hal-hal yang berkenaan dengan perkembangan sang buah hati, amanah Allah.

Urgensi mendidik anak sejak dini juga banyak disebutkan dalam Al Qur'an dan Al Hadits antara lain :

1. Terjemahan QS. At Tahrim (66) ayat 6

"Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka ..."

Memelihara, menurut sayyidina Ali: didik dan ajarilah, sedangkan menurut sayyidina Umar: melarang mereka dari apa yang dilarang Allah dan memerintahkan mereka apa yang diperintahkan Allah.

2. Terjemahan Al Hadits

"Setiap yang dilahirkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tuanya yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani, atau Majusi".

Hadits: seorang bayi mengencingi Rasulullah.

Di dalam buku "Pendidikan Anak Dalam Islam" karangan Abdullah Nashih Ulwan disebutkan bahwa Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang 7 (tujuh) segi dalam mendidik anak, yaitu :

1. Segi Keimanan

- menanamkan prinsip ketauhidan, mengokohkan fondasi iman ;

- mencari teman yang baik ;

- memperhatikan kegiatan anak.

2. Segi Moral

- kejujuran, tidak munafik ;

- menjaga lisan dan berakhlak mulia

3. Segi Mental dan Intelektual

- mempelajari fardhu 'ain dan fardhu kifayah ;

- mempelajari sejarah Islam ;

- menyenangi bacaan bermutu yang dapat meningkatkan kualitas diri ;

- menjaga diri dari hal-hal yang merusak jiwa dan akal

4. Segi Jasmani

- diberi nafkah wajib, kebutuhan dasar anak seperti makanan, tempat tinggal, kesehatan, pakaian dan pendidikan ;

- latihan jasmani, berolahraga, menunggang kuda, berenang, memanah, dll ;

- menghindarkan dari kebiasaan yang merusak jasmani

5. Segi Psikologis

- gejala malu, takut, minder, manja, egois dan pemarah

6. Segi Sosial

- menunaikan hak orang lain dan setiap yang berhak dalam kehidupan ;

- etika sosial anak

7. Segi Spiritual

- Allah selamanya mendengar bisikan dan pembicaraan, melihat setiap gerak-geriknya dan mengetahui apa yang dirahasiakan ;

- memperhatikan khusu', taqwa dan ibadah

Jika begitu banyak yang harus kita ajarkan pada anak, kapan waktu terbaik untuk memulai pendidikan kepada buah hati ?

Simaklah beberapa hasil penelitian baru berikut ini :

1. Fakta tentang otak :

a. Saat lahir, bayi punya 100 miliar sel otak yang belum tersambung. Pada usia 0-3 tahun terdapat 1000 triliun koneksi (sambungan antar sel). Pada saat inilah anak-anak bisa mulai diperkenalkan berbagai hal dengan cara mengulang-ulang :

- memperdengarkan bacaan Al Qur' an ;

- Bahasa asing seperti bahasa Inggris ;

- memperkenalkan nama-nama benda dengan cara bermain dan menunjukkan gambar ;

- memperkenalkan warna dengan menunjukkan kepadanya dalam bentuk benda yang dia kenal, warna-warna cerah di kamarnya dan gambar ;

- memperkenalkan aroma buah melalui buku ;

- membacakan cerita atau dongeng

Pada usia 6 tahun, koneksi yang terus diulang (mengalami pengulangan - pengulangan) akan

menjadi permanen. Sedangkan koneksi yang tidak digunakan akan dipangkas alias dibuang.

Oleh karenanya, usia sebelum 6 tahun adalah saat yang tepat untuk mengoptimalkan daya

serap otak anak agar tidak terpangkas percuma.

b. Otak yang belum matang rentan terhadap trauma, baik terhadap ucapan yang keras maupun tindakan yang menyakitkan. Susunan otak terbentuk dari pengalaman. Jika pengalaman anak takut dan stress, maka respons otak terhadap dua hal itulah yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat merubah struktur fisik otak. Itulah mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau memukulnya. Jika anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sopan, sebaiknyalah kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan sopan santun dengan cara yang arif serta penuh kesabaran. Kita dapat mencontoh bagaimana Rasulullah saw. bersikap sangat penuh kasih sayang terhadap anak-anak.

c. Otak terdiri dari dua belahan yaitu kanan dan kiri yang memiliki fungsi yang berbeda namun saling mendukung.

- Pekerjaan otak kiri berhubungan dengan fungsi verbal, temporal, logis, analitis, rasional serta kegiatan berpola.

- Pekerjaan otak kanan berhubungan dengan fungsi kreatif dan kemampuan bekerja dengan gambaran (visual) dan berfikir intuitif, abstrak dan non-verbal serta kemampuan taktil/motorik halus pada tangan, termasuk pembentukan akhlak dan moral.

Sistem pendidikan kita maupun ilmu pengetahuan pada umumnya cenderung kurang memperhatikan kepandaian yang tak terucapkan. Jadi, masyarakat modern cenderung menganaktirikan belahan otak kanan.

Menurut Bob Eberle, seorang ahli pendidikan, "prestasi pikiran manusia memerlukan kerja yang terpadu antara belahan kiri dan otak kanan". Kalau tujuan kita adalah mengembangkan pribadi yang sehat dan jika kita ingin menumbuhkan kreativitas secara penuh, maka diperlukan pengajaran untuk menuju keseimbangan antara fungsi kedua belahan otak itu.

2. Fakta tentang stress

a. Anak yang mengalami stress pada usia kritis 0-3 tahun akan menjadi anak yang hiperaktif, cemas dan bertingkah laku seenaknya.

b. Anak dari lingkungan stress tinggi mengalami kesulitan konsentrasi dan kendali diri.

c. Cara orang tua berinteraksi dengan anak di awal kehidupan akan membuat dampak pada perkembangan emosional, kemampuan belajar dan bagaimana berfungsi di kehidupan yang akan datang.

3. Ciri-ciri anak pada milenium kedua :

- mampu berpikir cepat ;

- mampu beradaptasi dengan cepat dan benar ;

- memiliki keimanan kuat sebagai filter ;

- menguasai bahasa dunia ;

- mampu menyelesaikan masalah dengan cepat ;

- orang tua mempunyai 7 kebiasaan efektif.

Dilihat dari berbagai hasil penelitian di atas dapat diperoleh gambaran tentang waktu terbaik dalam memulai mendidik anak yaitu sedini mungkin. Juga bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghadapi anak agar otaknya tidak mengalami trauma, serta dapat lebih meyakinkan kita lagi sebagai orang tua untuk terus menerus menambah ilmu agar dapat membantu anak mengembangkan potensi dirinya secara maksimal.

Satu pesan sederhana dalam mendidik anak, yang mungkin belum kita sadari sepenuhnya. Betapa banyak yang dapat kita ajarkan kepada anak kita tiap hari, hanya dengan berada di dekatnya. Dengan mengasuh, bermain dan bercakap-cakap dengan bayi kita yang mungil, kita bisa menjadi guru pertama bagi si kecil. Jangan lupa anak tumbuh dan berkembang sangat pesat, pakailah prinsip it's now or never (kalau tidak sekarang berarti tidak sama sekali) dalam mendidik anak.

Wallahu a'lam bi showwab.
Ya Allah berikanlah berkat dan kemampuan kepada kami untuk mendidik, merawat dan mengasuh anak-anak kami. Amiin.


Disampaikan oleh Emmy Soekresno, S.Pd

Pada acara : SEMINAR HARI ANAK NASIONAL

Jumat 28 Juli 2000
Auditorium Gedung B Lantai 2, Departemen Keuangan.
Jalan DR. Wahidin, Jakarta Pusat.